Tatap matamu untuk terakhir, siksa batin ku yang
mencintai, kupasrahkan pada Ilahi, relakan mu untuknya. “huaaaaa.. ini liriknya daleeemmmmm”, teriak Nana yang
memecahkan suasana tenang. “kak, kakak kenapa?”, ”hehehe... gak apa-apa kok dek”,
”tapi kakak gak gila kan?”, ”hush! Ngawur kamu! Masa kakakmu sendiri dibilang
gila?”, tiba-tiba ibu datang membawakan pisang goreng untuk anak-anaknya yang
sedang belajar bersama.”tau nih bu! Masa aku dibilang gila”, sahut Nana sambil
mengunyah pisang goreng. “lah lagian Kak Nana tiba-tiba teriak-teriak. Ganggu adek
belajar aja nih!”, “ya maaf deh dek, terlalu terbawa perasaan nih. Hehehe..”, ”sudah-sudah
lanjutkan berlajarnya”.
“Nana! Ayo bangun!
Ini sudah jam berapa? Nanti kamu telat nak!”, teriak ibu membangunkan Nana. Dan
ketika Nana melihat jam , waktu sudah menunjukan jam 06:06. “aduh gila! Gue kesiangan!”,
Nana bergegas mandi dan bersiap-siap untuk ke sekolah. “Bu, aku berangkat! Assalamualaikum!”,
sambil mencium tangan dan kedua pipi ibunya. Nana berlari mengejar waktu agar
tepat sampai sekolah. Dan untunglah Nana sampai tepat pada waktunya.
Sesampainya
dia di gerbang pintu sekolah tiba-tiba Nana menundukan kepalanya. “Masya Allah! Itu ada Vito!”, batin Nana.
“gue musti stay cool gak boleh keliatan
gugup!”. Sesekali Nana cp-cp (curi-curi pandang) ke Vito dan pada curian
terakhir Vito menyadari bahwa Nana dari tadi sedang memperhatikannya. Vito
hanya membalasnya dengan senyuman. Sementara Nana membalasnya dengan membuang
arah pandangan karena saking saltingnya (salah tingkah) dan tidak tahu harus
bagaimana.
“Na? Na?”, “hmmm?”,
“Nanaaaaaaaaaaaa!!!!!”, suara cempreng Sisil menggelegar dan merusak lamunan
Nana. “Asstaghfirullah! Sisil tau diri dong! Kalo nanti tiba-tiba gendang
telinga gue pecah gimana?”, “lah abisan lo pagi-pagi udah ngelamun
senyum-senyum sendiri! Kenapa lo kesambet setan dimane?”, “hehe gak apa-apa
kok, gue nggak kesambet hehe”, “lagi seneng lo yah?”, “hehehe nggak kok biasa
aja”, “seneng tuh bagi-bagi jangan pas lagi sedih aja lo bagi-bagi”, “ya ampus
sil! Gue gak lagi seneng! Kapan sih gue menyembunyikan kesenangan dari lo? Gak pernah
kan?”, “hmmm ya ya ya”, sahut Sisil pasrah.
Saat sedang
jam pelajaran berlangsung tiba-tiba Blackberry-nya Sisil bergetar. Segera Sisil
melihatnya walaupun guru sedang menerangkan di depan kelas. “Sil, taro dululah
hp-nya! Perhatiin dulu!” tegur Nana. “iya na! Bentar!”, “Sil?”, “iya sebentar”,
“Gue sebagai sahabat lo udah ngingetin yah! Sesuai dengan kemauan lo! Jadi jangan
salahin kalo lo nanti gak ngerti apa-apa!”, “iya iya na. Tapi ini Vito BBM gue!”.
Jleb!.... “mati gue!!! Jangan-jangan Vito
bilang kalo tadi gue cp-cp ke dia!” , batin Nana panik.
Nana takut
kalau sahabatnya itu tau tentang perasaan kagumnya terhadap Vito. Nana takut
kalau sampai Sisil tau, pasti dia tidak bisa menjaga rahasia ini. Dan dia akan
mengatakannya kepada Vito tentang perasaan Nana selama ini. “aaaaa tidaaaak! Ingin rasanya ku berteriak” ,
batin Nana semakin tak tenang. “ah bodoh!
Seharusnya gue gak boleh sika sama Vito! Vito kan deket sama Sisil. Sisil sahabat
gue sendiri! Walaupun Sisil bilang mereka hanya sahabatan tapi...”, pikiran
Nana semakin tak karuan.
“Na? Woy!”,
lagi-lagi Sisil mengejutkan Nana. “tuh kan bengong lagi!”, “hehehe”, “kenapa
sih lo Na?”, “gak apa-apa! Vito BBM apa?”, Nana mencoba mengalihkan
pembicaraan. “oh itu, gue disuruh nemuin dia di kantin pas istirahat, dia
bilang sih ada sesuatu yang mau ditunjukin”, “huh! Ternyata Vito gak membicarakan yang tadi pagi”, batin Nana
sedikit tenang.
Kringggg....
kringggg... Bergegas Nana mengambil mukena di dalam tasnya. “Na, lo gak mau
nemenin gue?”, “yah sorry Sil gue mau sholat dhuha”, “yaaaaahhh.. yaudah deh
gue sendiri”, “yaudah bareng aja ke bawahnya”, “yaudah yuuukk”.
Sisil mendatangi
Vito yang sudah menunggunya. “udah lama To?”, “nggak kok baru duduk nih gue. Hahaha.
Sendirian lo? Mana temen lo Nana?”, “sholat dhuha dia. Cie banget kan nanyain”,
“ lah kok cie? Emang salah kalo bertanya?”, “ya enggak sih”, “lah lo kenapa
nggak sholat dhuha?”, “lah kan gue nepatin janji lo!”, “hehehe”, “ada apa lo
nyuruh gue kesini?”, “oh iya!”, Vito merogoh sakunya dan mengeluarkan tiket
konser. “ini ada tiket konser penampilan perdana gue. Gue gak mau tau lo harus
dateng sabtu ini! Ini ada dua tiket lo ajak Nana sekalian deh”, “mau banget gue
dateng?”, “Sil ini gue serius lo harus dateng!”, “oke-oke! Jangan ngambek
dooong! Gue pasti dateng kok”.
Nana yang
telah selesai sholat dan hendak membeli cemilan di kantin, “nah, itu Nana!”,
ujar Vito. “Na, sini gabung!”. Nana menghampiri Vito dan Sisil, “kenapa?”, “biar
Sisil aja deh yang jelasin, gue mau pesen makanan”, “oh, oke!”, jawab Nana
dengan nada melas. “Sil, kok dia pergi sih pas gue ke sini? Dia gak suka yah
sama gue?”, “nggak kok biasa aja, malahan dia ngajakin kita ke konser
perdananya dia!”, “serius lo? Lo doang kali yang di ajak gue nggak!”, “kita Na
kita! Ini ada dua tiket di tangan gue! Satu buat gue satu buat lo! Yaudah sabtu
sore jam empat gue jemput lo. Gue gak mau kena macet soalnya”, “hmm oke deh!”.
“yeeee Vito
yeeeee!!!”, teriak Sisil memberi semangat untuk Vito. Vito pun tersenyum dan
memberikan sinyal agar Sisil ke backstage. “Na, ayo temenin gue ke backstage!”,
Sisil menarik tangan Nana dengan cara memaksa. “Vito keren!!!!! Hooooh!!!!!”, “makasih
pujiannya, makasih juga udah mau dateng!”, “iya dong apa sih yang engga buat
sahabat gue!”. Tiba-tiba Vito menarik tangan Nana dan menjauhi Sisil. Spontan Sisil
berteriak, “cieeee Nana! Kalo ditembak terima aja Na!hahaha”.
Perasaan panik,
gugup, penasaran, dan salah tingkah campur aduk menjadi satu. Tangannya begitu
dingin menggenggam tangan Nana. “kira-kira
apa yang ingin dikatakan vito? Sampai-sampai dia meninggalkan Sisil?”,gumam
Nana. “Na, gue minta maaf banget yah sama lo!”, “loh kenapa lo? Lo buat salah
apa sama gue?”, “belom. Eh maksudnya ini gye mau melakukan kesalahan sama lo”, “hmm
gak jelas lo!”, “gue gak bermaksud gimana, tapi lo pulang duluan yah! Please! Please
banget!”, “hah?”, “lo naik taksi deh biar gue yang bayar”, “hmm yaudah deh”, “jangan
marah yah!”, “slow aja!”.
“Sil, gue
balik duluan yah! Takut kemalem gak enak sama ibu”, “oh yaudah gue ikut pulang
juga”, “eh lo di sini aja! Kasihan Vito sendirian”, “To! Lo apain temen gua
ampe pengen minta pulang?”, “gak diapa-apain Sil! Elah suudzon aja! Gue gak
enak sama ibu gue! Udah yah gue balik! bye”, “yaaah... yaudah hati-hati di jalan!”
Sepanjang jalan
Nana hanya meratapi jalan yang dilaluinya dan membayangkan senyuman Vito dan
kejadian yang dialaminya. Sesampainya dirumah, hp Nana bergetar dan ternyata
sms dari Sisil, Na, tadi Vito nembak gue!
Sekarang gue jadian loooh sama diaa! Haaa senangnya!hihihi , sms itu hanya
dibaca oleh Nana. “Tuh kan bener! Mereka akhirnya jadian!”, ujar Nana. “yasudahlah
memang sudah jadi jalannya kali”, Nana mencoba menghibur dirinya. Dia kembali
mendengarkan lagu ‘Senandung Lagu Cinta’ yang
menurtutnya lirik lagu itu menggambarkan tentang dirinya. Dan akhirnya Nana
tertidur pulas.
“Na, kok sms
gue gak dibales?”, “gak ada pulsa sil!”, jawab Nana dingin. “lo marah sama gue?”,
“gak! Kenapa gue musti marah?”, “ya karena gue jadian sama Vito”, “gak kok
biasa aja”, “ gue tau semua dari blog lo na”, “HAH? Lo baca blog gue?”, Nana
terkejut bukan main. “iya”, “aduuuh maaf banget yah kalo gue sebenernya suka
sama Vito”, “harusnya gue yang minta maaf, gue gak tau kalo lo suka sama Vito. Abis
lo gak pernah cerita ke gue sih! Apa gue putus...”, “JANGAAAAN!!!”, potong
Nana, “udah gak apa-apa gue sil! Biasa aja kok gue! Gue ikhlas kok Sil!”, “beneran?”,
“iya kok! Gak lucu kan kalo kita pecah cuma karena masalah cowok?”, Nana
tersenyum ikhlas dan Sisil pun memeluk Nana, “makasih yah Na! Lo rela
mengorbankan perasaan lo buat orang lain bahagia. Gak nyesel gue punya sahabat
kayak lo! Gue sayang banget sama lo Na”.

0 comments:
Posting Komentar